TINGKATAN KEIMANAN SESEORANG DITENTUKAN DARI AKHLAKNYA

TINGKATAN ORANG BERIMAN

Apakah bisa dikatakan bahwa semua orang yang berima itu sama tingkatannya. Atau ada yang imannya  lebih tinggi tingkatannya dari yang lain ?

Jawab :

Seringkali kita mendengar pertanyaannseperti ini terkhusus kepada orang-orang yang masih menemukan kesungguhan dan keyakinan dalam Islam .

Terlebih dahulu kita mengetahui arti dari iman. Iman secara bahasa artinya tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara terminology adalah iman adalah keyakinan dalam hati diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan  Derajat keimanan setiap orang berbeda-beda tergantung pada frekuensi ibadah mereka masing-masing, dari tinggi rendahanya ibadah mereka.

Rasulullah saw bersabda :

“ Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik manusia dari kalangan kamu sekalian ialah mereka yang paling baik kepada istrinya”

(Riwayat Abu Daud)

Dari hadits tersebut dikatakan bahwasannya orang yang baik imannya adalah orang yang baik akhlaknya. Sebab dari itu iman akan beriringan dengan akhlak, iman yang baik maka akhlak nya akan baik dan sebaliknya iman yang buruk maka akhlaknya pun buruk.

 

Allah SWT berfirman :

 ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡ….

“ ….. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang bertakwa di antara kamu ”

Dari ayat tersebut dikatakan bahwa ada yang mulia dan ada yang paling mulia, disini terdapat tingkatan. Tentu saja yang paling tinggi tingkatannya adalah nabi. Ada nabi yang ma’sum (dilindungi) dari perbuatan dosa.

Orang yang mengamalkan keimanannya ada yang telah mencapai derajat takwa dan ada yang paling bertakwa, kemudian ada yang mulia dan paling mulia. Terus meningkat kadar (derajat keimanannya, sampai setingkat dengan para nabi). Puncak dari orang-orang yang beriman adalah nabi, dan dari para nabi yang paling tinggi adalah Muhammad saw.

Mengukur iman yang benar dan kuat dapat diukur setelah melalui ujian yang Allah SWT berikan. Keimanan yang kuat maka akan semakin berat diuji. Keimanan yang lemah maka akan di uji dengan ringan. Besarnya pahala yang diperoleh manusia tergantung dari besar kecilnya ujian itu. Para nabi mendapat ujian yang begitu berat. Dan ujian yang paling berat diberikan kepada nabi Muhammad saw.[1]



[1] M. Mutawalli Sya’rawi , Anda Bertanya Islam Menjawab (Jilid-3), Jakarta: Gema Insani Press, 1993, 38


Komentar